(QS: Muhammad 38)
Sedulurku tercinta, bila ada orang-orang kaya yang sibuk menumpuk dan menyimpan harta kekayaannya, tetapi mereka sangat pelit [bakhil] untuk membelanjakan harta kekayaan tersebut. Kemudian mereka menyibukkan diri dengan ibadah-ibadah fisik yang tidak memerlukan biaya, seperti: berpuasa pada siang hari, melakukan shalat malam, dan menghatamkan Al-Qur’an. Sebenarnya dengan kelakuan seperti ini, mereka semua hakekatnya menipu–menipu Cinta, sebab kebakhilan yang sangat merusak telah menguasai relung batiniah mereka. Tidak salah mereka melakukan jenis ibadah seperti itu namun bagi mereka lebih utama membuang kebakhilannya dan mendermakan hartanya yang lebih bermanfaat bagi manusia. Allah SWT Maha Mengetahui amal perbuatan mereka: mana yang lebih utama itu. Maka seharusnya mereka dapat memasuki ketinggian derajat disisi Yang Maha Cinta, dengan menafkahkan harta kekayaannya sehingga mereka tidak mencari suatu kelebihan yang sepatutnya tidak perlu mereka lakukan.
Dalam hal ini Rumi berpesan: sebarkan benih agar lingkunganmu menjadi Taman, sebelum benih itu busuk dan dijarah tikus. Perumpamaan orang kaya yang tak peduli seperti itu adalah bagai orang yang pakaiannya dimasuki ular berbisa yang mematikan, tetapi mereka masih menyibukkan diri dengan memasak jamu untuk menyembuhkan penyakit kuningnya. Hal ini bagi Imam Ghozali dianggap aib, sebagimana kritik beliau terhadap mereka yang sangat berambisi membelanjakan uangnya untuk melakukan ibadh haji, sehingga mereka melakukan ibadah haji berkali-kali sementara mereka meninggalkan masyarakat sekitarnya kelaparan atau banyak sarana yang lebih manfaat terabaikan. Oleh karena itu, ada seseorang yang berkata kepada Imam Bisyri: “Sesungguhnya Fulan yang kaya itu banyak melakukan puasa dan shalat.” Imam Bisyri menjawab: “Kasihan,dia meninggalkan urusannya sendiri dan memasuki urusan orang lain, sesungguhnya lebih baik bagi dirinya untuk memberikan makanan kepada orang-orang yang kekurangan atau kelaparan, dan menafkahkan hartanya untuk orang-orang miskin daripada dia melaparkan dirinya sendiri, dan melakukan shalat malam untuk kepentingan dirinya sendiri, untuk apa dia mengumpulkan dunia dan menahan harta kekayaannya itu dari fakir miskin…..”
Kawan-kawan, dengan senyum Imam Bisyri melanjutkan: “Harta kekayaan yang dikumpulkan dari kotoran perniagaan dan syubhat, membuat hawa nafsu bertindak di dalamnya untuk “memamerkan” amal shalehnya, padahal Allah SWT telah berjanji kepada diriNya sendiri untuk tidak menerima kecuali amal orang-orang yang bertaqwa kepadaNya itu….Barokallah!!!”

Setahun diri berada dalam petualangan turuti nafsu, jatuh-terpuruk jiwa kefithrahan didesak-tekan keingkar-dustaan, sikap diri tak pernah sadar telah buahkan dosa yang menjerat langkah diri ke siksa adzab neraka.

Terperangkap diri dalam aggapan merasa berada dalam garis-lurus taat Ilaahi, kenyataan hati tak dapat bersapa-kata dengan Ilaahi. Tiada guna sesal kemudian tatkala maut menjemput diri.

Kasih dan sayang Ilaahi tiada batas-tercurah, hadirkan Ramadhan si Tamu Agung nan Mulia, entas-bebaskan jiwa kehidupan dari jerat adzab neraka yang tak pernah disadari adanya.

Pahit dirasa nafsu hadirnya Ramadhan, di awal kegiatan tumbuh-bangkitkan kesadaran ruhani, tersorot kejahatan laku-perbuatan nafsu menekan-bunuh nurani-hati ingin hidup akrab-Ilaahi.

Sebutir benih kesadaran dilontar-tumbuhkan Ramadhan si Tamu Mulia ke dalam qalbu insani, tumbuhkan rasa malu pada jiwa, sadarkan diri hidup dalam pembangkangan bersimbah dosa.

Terpancing kesadaran tumbuhkan gairah baru, membangun kemurnian iman tauhid pada kedalaman hati selaku pondasi dan perisai diri dari bujuk-kemunafiqan pendusta diri dan Ilaahi.

Laksana hujan turun mengguyur gurun-pasir tandus, kesegaran tersibak, demikian Ramadhan hadir guyurkan rahmat-ampunan dan pelepasan jiwa tandus dari adzab tak terperi.

Laksana si kecil tertatih jatuh-bangun, berlatih tegak-berdiri, demikianlah terhuyung langkah kefithrahan bergerak-bangkit menuju pensucian jiwa dalam titian Ramadhan Tamu Agung nan Mulia.

Tulisan di atas merupakan cuplikan dari Khutbah Iedul Fitri 1432, buan pena Ustadz Lutfi Fauzan –Admin. diunduh dari  http://kajianbudayailmu.blogspot.com/2011/08/dari-ramadhan-ke-ramadhan.html

SILAHKAN DIUNDUH DI SINI
Al Quranul Karim

Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu. Karena [+] [Ali-Imran 3:50]

Ruang Rindu

Loading

WP Shoutbox
Jeneng
Situs web
Message
Smile