
Setahun diri berada dalam petualangan turuti nafsu, jatuh-terpuruk jiwa kefithrahan didesak-tekan keingkar-dustaan, sikap diri tak pernah sadar telah buahkan dosa yang menjerat langkah diri ke siksa adzab neraka.
Terperangkap diri dalam aggapan merasa berada dalam garis-lurus taat Ilaahi, kenyataan hati tak dapat bersapa-kata dengan Ilaahi. Tiada guna sesal kemudian tatkala maut menjemput diri.
Kasih dan sayang Ilaahi tiada batas-tercurah, hadirkan Ramadhan si Tamu Agung nan Mulia, entas-bebaskan jiwa kehidupan dari jerat adzab neraka yang tak pernah disadari adanya.
Pahit dirasa nafsu hadirnya Ramadhan, di awal kegiatan tumbuh-bangkitkan kesadaran ruhani, tersorot kejahatan laku-perbuatan nafsu menekan-bunuh nurani-hati ingin hidup akrab-Ilaahi.
Sebutir benih kesadaran dilontar-tumbuhkan Ramadhan si Tamu Mulia ke dalam qalbu insani, tumbuhkan rasa malu pada jiwa, sadarkan diri hidup dalam pembangkangan bersimbah dosa.
Terpancing kesadaran tumbuhkan gairah baru, membangun kemurnian iman tauhid pada kedalaman hati selaku pondasi dan perisai diri dari bujuk-kemunafiqan pendusta diri dan Ilaahi.
Laksana hujan turun mengguyur gurun-pasir tandus, kesegaran tersibak, demikian Ramadhan hadir guyurkan rahmat-ampunan dan pelepasan jiwa tandus dari adzab tak terperi.
Laksana si kecil tertatih jatuh-bangun, berlatih tegak-berdiri, demikianlah terhuyung langkah kefithrahan bergerak-bangkit menuju pensucian jiwa dalam titian Ramadhan Tamu Agung nan Mulia.
Tulisan di atas merupakan cuplikan dari Khutbah Iedul Fitri 1432, buan pena Ustadz Lutfi Fauzan –Admin. diunduh dari http://kajianbudayailmu.blogspot.com/2011/08/dari-ramadhan-ke-ramadhan.html
